08 Oct, 2026
Membuat website bisnis sebaiknya tidak dimulai dari memilih template atau mencari vendor dengan harga termurah. Sebelum masuk ke tahap desain dan development, ada beberapa keputusan penting yang perlu disiapkan agar website benar-benar sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Checklist membuat website membantu Anda memastikan hal-hal seperti tujuan website, target pengguna, struktur halaman, fitur, konten, domain, hosting, SEO, keamanan, hingga maintenance sudah dipikirkan sejak awal. Langkah ini terlihat sederhana, tetapi dapat mencegah banyak perubahan scope dan biaya tambahan ketika proyek sudah berjalan.
Google sendiri mendorong website untuk dibuat dengan pendekatan people-first, yaitu memberikan manfaat nyata kepada pengguna dan bukan sekadar dibuat untuk mengejar trafik dari mesin pencari.
Karena itu, sebelum meminta penawaran jasa pembuatan website, gunakan checklist berikut untuk memastikan kebutuhan bisnis sudah cukup jelas.
Hal pertama yang harus dijawab adalah: website ini dibuat untuk apa?
Tujuan yang berbeda akan menghasilkan struktur dan kebutuhan teknis yang berbeda pula.
Website bisnis bisa dibuat untuk:
Misalnya, website perusahaan jasa yang berfokus pada lead generation membutuhkan CTA, formulir kontak, halaman layanan, studi kasus, dan integrasi WhatsApp. Sementara toko online membutuhkan katalog, checkout, pembayaran, stok, dan pengelolaan pesanan.
Jangan mulai dari “ingin website yang bagus”. Mulailah dari hasil bisnis yang ingin dicapai.
Website yang bagus untuk pemilik bisnis belum tentu bagus untuk pelanggan.
Tentukan siapa yang akan menggunakan website dan apa yang kemungkinan mereka cari. Informasi ini membantu menentukan struktur navigasi, bahasa, visual, CTA, dan konten.
Contohnya, website B2B mungkin membutuhkan informasi perusahaan, spesifikasi layanan, portofolio, sertifikasi, dan formulir inquiry. Website B2C dapat lebih fokus pada produk, harga, promo, review, dan proses pembelian.
Semakin jelas target pengguna, semakin mudah membuat user journey yang logis.
Tidak semua bisnis membutuhkan website dengan kompleksitas yang sama.
Checklist awal dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
Jika kebutuhan hanya menyampaikan informasi dan mendapatkan leads, website sederhana mungkin sudah cukup. Namun jika website menjadi bagian dari operasional bisnis, kebutuhan database, authentication, API, role pengguna, dan business logic perlu direncanakan sejak awal.
Menentukan kategori ini juga membantu vendor membuat estimasi scope dan harga secara lebih akurat.
Sebelum desain dimulai, tentukan halaman minimum yang dibutuhkan.
Untuk company profile, contohnya:
Untuk e-commerce, struktur tersebut dapat berkembang menjadi kategori produk, detail produk, cart, checkout, akun pelanggan, dan halaman pesanan.
Daftar halaman ini merupakan dasar sitemap dan information architecture. Struktur yang baik membantu pengguna menemukan informasi tanpa harus menebak ke mana harus pergi.
Google juga menyarankan struktur website yang mudah dipahami dan membantu mesin pencari menemukan serta memahami konten di dalamnya.
Buat dua daftar: fitur wajib dan fitur tambahan.
Fitur wajib adalah fungsi yang harus tersedia saat website diluncurkan. Fitur tambahan dapat dikembangkan setelah website berjalan.
Contoh fitur yang mungkin dibutuhkan:
Pemisahan ini membantu menjaga scope proyek. Banyak proyek menjadi lebih mahal karena semua fitur dianggap wajib sejak awal, padahal sebagian belum dibutuhkan.
Website bukan hanya soal kode dan desain. Konten menentukan informasi apa yang diterima pengguna.
Siapkan sejak awal:
Tentukan juga siapa yang bertanggung jawab membuat konten. Apakah dari tim internal, copywriter, atau vendor?
Keterlambatan konten sering menyebabkan desain dan development ikut tertunda. Sebaliknya, content-first workflow membantu desainer dan developer memahami kebutuhan halaman secara lebih konkret.
Domain adalah alamat website, sedangkan hosting atau server menjadi tempat website dijalankan.
Sebelum membeli, tentukan nama domain yang:
Untuk domain Indonesia, PANDI merupakan registry domain tingkat tinggi berkode negara Indonesia (.id) dan menyediakan daftar registrar terakreditasi untuk pendaftaran domain.
Yang lebih penting, akun domain dan hosting sebaiknya tetap dapat dikendalikan oleh pemilik bisnis. Vendor dapat membantu mengelola secara teknis, tetapi ownership jangan dibuat tidak jelas.
Sebelum project dianggap selesai, website harus diuji pada smartphone, tablet, dan desktop.
Periksa:
Pengalaman mobile bukan hanya masalah desain. Google menggunakan versi mobile website dalam mobile-first indexing, sehingga versi mobile menjadi bagian penting dari cara Google memahami halaman website.
Karena itu, jangan hanya meminta vendor menunjukkan hasil website melalui laptop.
Website cepat membantu pengguna mengakses informasi tanpa menunggu terlalu lama.
Google menggunakan Core Web Vitals sebagai bagian dari evaluasi pengalaman halaman, termasuk metrik seperti Largest Contentful Paint (LCP), Interaction to Next Paint (INP), dan Cumulative Layout Shift (CLS).
Checklist performa minimal mencakup:
Jangan mengejar angka skor semata. Fokus utamanya tetap pengalaman pengguna nyata.
SEO lebih mudah dibangun ketika struktur website sudah dirancang dengan benar sejak awal.
Checklist SEO teknikal dapat meliputi:
Google menyediakan Search Console untuk membantu pemilik website memantau performa pencarian dan melihat apakah halaman dapat diindeks.
SEO juga bukan jaminan otomatis untuk masuk halaman pertama. Karena itu, hindari vendor yang menjanjikan ranking tertentu secara pasti.
Keamanan perlu dipertimbangkan terutama jika website memiliki login, data pelanggan, transaksi, dokumen, atau integrasi sistem.
Minimal, diskusikan:
OWASP Top 10:2025 merupakan dokumen awareness yang membahas risiko keamanan aplikasi web, termasuk Broken Access Control, Security Misconfiguration, Software Supply Chain Failures, Injection, dan Authentication Failures. OWASP juga menekankan bahwa Top 10 merupakan titik awal, bukan daftar lengkap seluruh kebutuhan keamanan.
Semakin sensitif data dan semakin penting website bagi operasional, semakin serius pula kebutuhan security planning.
Ini salah satu checklist yang sering terlupakan.
Pastikan sejak awal siapa yang memiliki dan mengakses:
Idealnya, akun utama berada pada pihak bisnis, sementara vendor mendapatkan akses yang diperlukan untuk pengerjaan.
Hal ini penting apabila suatu saat perusahaan ingin mengganti vendor, memindahkan hosting, atau mengembangkan sistem bersama tim internal.
Sebelum development dimulai, sepakati bagaimana proses kerja berlangsung.
Tanyakan:
Dokumen scope of work yang jelas membantu mencegah perbedaan ekspektasi.
Jika bisnis membutuhkan layanan pengembangan website, proposal sebaiknya menjelaskan deliverables secara spesifik, bukan hanya mencantumkan istilah seperti “website profesional”.
Budget website tidak berhenti pada biaya development.
Pertimbangkan juga:
Dengan begitu, perusahaan tidak hanya menyiapkan budget pembuatan, tetapi juga Total Cost of Ownership selama website digunakan.
Sebelum website dipublikasikan, lakukan pemeriksaan terakhir:
Checklist ini sederhana, tetapi dapat membantu menemukan masalah sebelum website dilihat publik.
Agar prosesnya lebih praktis, gunakan urutan berikut:
Tujuan → Pengguna → Struktur → Fitur → Konten → Desain → Teknologi → SEO → Security → Testing → Launch → Maintenance
Jangan melompati tahap pertama dan langsung membahas desain. Jika tujuan dan pengguna belum jelas, desain yang bagus pun belum tentu menghasilkan website yang efektif.
Framework tersebut juga membuat komunikasi dengan vendor lebih mudah karena setiap keputusan memiliki alasan bisnis.
Checklist membuat website sebaiknya mencakup lebih dari sekadar desain dan harga. Sebelum memulai proyek, bisnis perlu menentukan tujuan, target pengguna, jenis website, struktur halaman, fitur, konten, domain, hosting, mobile experience, performa, SEO, keamanan, ownership, timeline, serta maintenance.
Website yang baik bukan hanya website yang berhasil online. Website tersebut harus dapat digunakan dengan nyaman, mudah dipelihara, memiliki struktur yang jelas, aman sesuai kebutuhannya, dan mendukung tujuan bisnis.
Dengan checklist yang matang, proses mencari vendor juga menjadi lebih objektif. Anda dapat membandingkan proposal berdasarkan scope dan kebutuhan nyata, bukan sekadar memilih penawaran yang terlihat paling murah. Untuk bisnis yang membutuhkan Jasa Website Tangerang, checklist ini dapat digunakan sebagai acuan sebelum berdiskusi mengenai fitur, desain, dan estimasi pengerjaan.